Rabu, 19 Januari 2011

ANUGERAH ALLAH: memberi tanpa kondisi bersyarat

Dapatkah kasih naluriah manusia menembus batas kebutuhan yg mementingkan diri sendiri?
Belajar dari Daud yg mendemontrasikan kasih supra alami kepada Mefiboset: orang yg sudah terbuang!!!

Anugerah Tuhan sanggup mengubah kasih manusia yg bersyarat menjadi kasih super yang mengalir tanpa bersyarat melewati status, kepentingan atau golongan!

Apa yang menggerakkan Daud untuk memikirkan kelangsungan keluarga Saul, orang yang pernah menekan bahkan berusaha membunuh Daud selama bertahun-tahun?

  • tanpa merasa sakit hati !
  • tanpa merasa terancam kekuasaannya !
  • Menembus batas kasih alamiah manusia !
1. Karena Integritas Moral Daud (ayat.1) 
merupakan alasan pertama yg memampukan Daud mengasihi orang lain melebihi takaran alamiah.


a. Integritas Daud dalam Suksesi Kepemimpinan dengan cara bersih

Prosesi pemilihan Daud menjadi raja oleh Nabi Samuel seharusnya menjadi syarat yg cukup bagi Daud untuk segera mengakhri suksesi kepemimpinan dengan  menggunakan jalan kekerasan. Secara de jure  Daud adalah pemimpin baru yg sudah ditetapkan Tuhan sebaggai raja baru pengganti Saul tetapi de facto Saul masih belum turun tahta. Beberapa kali muncul kesempatan untuk mengakhri hidup Saul , saat Saul didalam gua untuk buang hajat dan saat Saul tertidur kelelahan mengejar Daud. 


Kesempatan 1: 1 Samuel 24 : 4-27
Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat,  tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu. 24:4(24-5) Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan   TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik. " Maka Daud bangun, lalu memotong   punca jubah Saul dengan diam-diam. 24:5 (24-6) Kemudian berdebar-debarlah hati   Daud, karena ia telah memotong punca Saul24:6 (24-7) lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi   TUHAN  , yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN." 24:7 (24-8) Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul


Kesempatan ke 2: 1 Samuel 26 : 8-11
Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya. 26:8 Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: "Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali." 26:9 Tetapi kata Daud kepada Abisai: "Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN  , dan bebas dari hukuman?  26:10 Lagi kata Daud: "Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh  dia: entah karena sampai ajalnya  dan ia mati,   entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana26:11 Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN

Betapa sadarnya Daud, bahwa sukses pengabdiannya bukan ditentukan oleh kekuatan tangannya, namun hanya Tangan TUHAN saja, sehingga ia tidak berani mengambil kesempatan lebih cepat dari waktu Tuhan. Ia tidak berani melakukan tindakan tercela, cara yg culas, walaupun sudah ada legalisasi hukum maupun kekuatan besar yg menyokongnya.
Cara elegan & bersih dipandang lebih penting dari sekedar hasil akhir yg membolehkan segala cara untuk meraih suksesi kepemimpinan Israel. Kombinasi antara kesabaran dan ketaatan bertarung dalam suasana hingar bingar situasi yg mendorong bertindak sembrono, namun Daud tetap mengambil sikap menanti waktu Tuhan yg bekerja dengan caraNya sendiri


Aplikasi: 
Pekerjaan Tuhan bukanlah tempat kondusif bagi berseminya hati yg bersih dan selalu dikobarkan dengan semangat volunter untuk   memenangkan jiwa sebanyak mungkin bagi Tuhan. Pelayanan bukan tempat yg ideal memimpikan segalanya indah, putih bersih tanpa noda.
Walaupun Tuhan yg selalu dapat dijadikan alasan kerja pelayanan, namun jumlah orang (jemaat) dimaknai sejajar dengan jumlah persembahan, perpuluhan yg berujung pada kemakmuran pribadi.  Sehingga kemajuan pelayanan sering diukur dengan sejumlah besar jemaat yg boleh diperoleh dengan segala cara dan dianggap sebagai prestasi pelayanan.

Produktifya sekolah Alkitab maupun Sekolah Teologia dalam mencetak tenaga pelayanan baru menjadi persolan baru karena memicu pelayanan sebagai kompetisi diantara kita menjadi tak terhindarkan.
Ladang pelayanan yg dipetakan secara geografis dengan tujuan keteraturan juga dapat berubah menjadi wilayah jajahan yg harus dipertahankan mati-matian, kedatangan orang baru di pelayanan bukan diterima sebagai mitra kerja tetapi malah dianggap sebagai ancaman baru. Ini dapat melemahkan energi hamba Tuhan pemula untuk tidak terlibat progresif di pelayanan pastoral tetapi memilih bentuk pelayanan lain yg asal terbuka.


Dibutuhkan penataan ulang mental kita yg sungguh komitmen di ladang pelayanan!
Masihkah kita berada di jalan yg bersih, dengan cara yg bersih  dengan tujuan yg bersih ?
Masihkah kita berTuhankan Yesus dalam  pelayanan kita............?
b. Perkataannya dipegang secara konsisten 


Janji Daud yg pernah disampaikan kepada Yonatan tidak dianggap sebagai pemanis bibir untuk menghibur diri, namun ia berpegang teguh terhadap apa yg diucapkan. Hubungan Daud dengan keluarga Yonatan diabadikan dalam sanubari ini menunjukkan konsistensinya terhadap hidup Daud dalam memikirkan kepentingan yg lebih besar .

1 Samuel 20:14-17
20:14 Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia  TUHAN? Tetapi jika aku sudah mati, 20:15 janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap   sampai selamanya. Dan apabila TUHAN melenyapkan setiap orang dari musuh Daud dari muka bumi, 20:16 janganlah nama Yonatan  terhapus dari keturunan Daud, melainkan kiranya TUHAN menuntut balas   dari pada musuh-musuh Daud."20:17 Dan Yonatan menyuruh Daud sekali lagi bersumpah   demi kasihnya kepadanya, sebab ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri.


Daud tidak mudah dolak-dalik atau berubah setia terhadap janji bahkan kepada orang yg sudah tidak dapat melihat relalita janji tersebut karena sudah mati.
Konsistensi bukanlah pilihan hidup namun karakter yg dibangun dari hubungan harmoni antara Tuhan dan sesama. Orang yg memandang penting Tuhan pasti juga memandang penting umat Tuhan.
HUBUNGAN baik dengan sesama tidak dapat diproyeksikan dari sisi bisnis semata: menuntut nilai "profitable" semata. Daud memandang pentingnya menyatakan kasih kepada Mefiboset karena hubungan sebagai manusia yg pantas mendapat belas kasihan.
Typologi Anugerah Allah kepada manusia kasih yg memberi tanpa syarat & tanpa akhir.


Aplikasi:
Bagaimana kita sebagai hamba Tuhan memandang mereka yg kita layani? Sedemikian berharganya mereka sebagai pribadi atau obyek yg dieksploitasi supaya tetap mendudukkan sang hamba tetap eksis di tahta pelayanan yg nyaman.
Atau jemaat adalah sebagai subyek yg menjadi fokus perhatian seperi gembala & domba yg terus merawat , memberi akses pertumbuhan iman, memberi solusi atas masalah bahkan goalnya diangkat Tuhan kesorga.
Tuntutan jaman ini tampil demikian menawan sehingga dapat menyembunyikan perubahan komitmen dibalik penampilan phisik kita,
Bersama perubahan jaman ,apakah tidak ikut menggeser konsistensi kita dalam memberitakan Injil sebagai prioritas pelayanan bukan sekedar memoles gedung gereja supaya tidak dianggap ketinggalan jaman atau untuk kegagahan sang pelayan Tuhan. Semoga itu tidak terjadi !!!

Menjadi seorang hamba Tuhan bukan persoalan yg penting saya tetap di ladang Tuhan !
Kita tidak dilatih hanya untuk bertahan atau jalan ditempat, kualifikasi pelayanan unggul & efektif jauh lebih penting dibanding sekedar membicarakan: senioritas, jumlah jam terbang di pelayanan, atau musyawarah besar dsb !
Kemuliaan Tuhan lebih penting dari pengakuan orang terhadap diri kita.

Bekerjalah bukan untuk mendapat apa yg dapat binasa namun bekerjalah untuk apa yg kekal, mulia, yg membuat Tuhan dipermuliakan dan umat Tuhan beroleh kebaikan.
Konsisten melayani Tuhan adalah konsisten terhadap kemajuan Injil.
2. Karena Anugerah: Mampu hidup menyalurkan Anugerah (ayat.3)
Gereja bergerak kearah reformasi karena dobrakan: sola fide, sola gratia & sola scriptura.
Hanya karena iman, hanya karena anugerah dan hanya karena Alkitab.
Karena Allah, dari Allah dan untuk Allah merupakan keyakinan Daud yg menghidupi keyakinannya bahwa tahta yg ia terima buakan hasil keringat & air matanya namun bersumber dari Allah - karena anugeraNya. Sehingga ia dimampukan untuk secara alami mengalirkan kasih Allah yg murni bahkan kepada mereka yg pernah memusuhinya.
Realita hidupnya adalah lukisan tangan Allah sendiri; yang membawanya dari GEMBALA DOMBA menjadi SEORANG RAJA, dari padang rumput menuju istana. Bagaimana mungkin?
Tak pernah terbayangkan seorang yg tidak berpenampilan phisik meyakinkan (kemerah-merahan) , menggembala beberapa ekor domba (tidak tergolong darah biru) diubahkan secara mengejutkan menjadi raja Isreal bahkan melalui garis keturunannya lahirlah Yesus Kristus.
Tidak ada alasan untuk layak menjadi orang yg bermartabat tetapi malah dilayakkan menjadi raja: itulah esensi anugerah yg Daud terima.
Sebagai tindak lanjutnya, ia tidak dapat bermegah atas prestasinya karena semua karena anugerah Tuhan semata.
Jadi alasan kedua mengapa Daud sanggup berbelas kasihan kepada Mefiboset adalah karena terus dihidupi oleh anugerah Allah.
Anugerah Tuhan mampu membalikkan kehidupan yg hina menuju kemuliaan!
Anugerah Tuhan yg sanggup mengubah kepahitan menjadi sungai sukacita!
Anugerah Tuhan yg memampukan orang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan

Aplikasi:

Patut kita apresisi dengan dua jempol para founding father- perintis pelayanan yg berjuang dengan fasilitas apa adanya jaman lampau, sanggup menumbuhkan puluhan ribu jemaat mandiri diseluruh Indonesia. keringat dan air mata yg tertumpah bertumbuh menjadi jemaat harus disadari karena Anugerah Tuhan.

Kini jaman sudah berubah, pekerjaan Tuhan membutuhkan lebih dari sekedar "spirit pelayanan"
ketahanan phisik dan wawasan teologia apa adanya. Pendidikan Alkitab singkat harapkan hasil lebih meningkat.
"Kenapa dulu opa bisa sekarang elu tidak bisa, Tuhan kita khan sama" ...betuuuul
" Pakai lutut brur...zusss...berdoa sampai lutut rata supaya Tuhan dengar doa"amieeen
Benarkan filosofi ini masih relevan untuk konteks pelayanan masa kini. ?? 
Peran mereka yg mendapatkan anugerah sukses pelayanan harus disalurkan pada generasi muda yg sekarang lagi merintis pekerjaaan Tuhan dalam kondisi terengah-engah secara ekonomi.
Kemapanan pelayanan secara phisik sering menjadi standar berhentinya seorang hamba Tuhan untuk mencurahkan perhatian pada pengembangan pelayanan ditempat lain.
Sudah sukses kok repot.....repot....saya dulu juga susah!! gantian doong
Tidak bisakah kita menciptakan strategi pelayanan lebih cantik supaya hasilnya makin efektif.?
Tuhan tidak bertanya berapa banyak uang yg kita investasi, gedung gereja, jumlah jemaat, dan semua yg berkaitan angka-angka manusia.
Tetapi seberapa efektifkah hidup ini kita investasikan terus untuk pekerjaan Tuhan?
Masih banyak rekan sepelayanan kita yg kesulitan kontrak tempat pelayanan... 
Masih banyak para pengerja gereja yg kesejahteraannya jauh dibawah buruh pabrik..
Masih banyak gereja perintisan hidup bagai bayi tumbuh prematur kita paksa untuk tumbuh normal..mandiri dan kuat.
Anda yg masih berjuang perintisan pelayanan: seperti Mefiboset yg lemah, hina, tersisihkan, percayalah selalu ada anugerah Tuhan yg ajaib menguatkan selalu.
Bersama kita pasti bisa!!! 
AnugerahNya kiranya mengubah konsep pelayanan kita lebih cantik, lebih manusiawi, lebih taktis..TUHAN YESUS DIMULIAKAN

by Haris Subagiyo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar